PEMANFAATAN PEKARANGAN RUMAH DI DESA SEJANGAT KECAMATAN BUKIT BATU
Lahan pekarangan kosong di depan rumah ternyata bisa menyediakan kebutuhan pangan dan menjadi pendapatan bagi keluarga di masa pandemi seperti ini. Hal tersebut telah dirasakan oleh sebuah keluarga, warga asal RT 10 RW 01, Dusun Sukaramai, Desa Sejangat, Kecamatan Bukit Batu. Keluarga yang beranggotakan 5 orang itu giat memanfaatkan lahan pekarangan yang ada di depan rumah untuk ditanami jagung dan sayuran.
Keluarga yang terdiri dari sepasang suami istri dan tiga orang anak ini, memberdayakan anak-anak mereka untuk ikut membantu. Proses seperti tanam benih dan menyiram sudah menjadi tanggung jawab anaknya-anaknya, termasuk urusan membersihkan rumput. Pekerjaan tersebut dilakukan secara bersama dengan kondisi kekeluargaan yang menyenangkan. Adapun jenis tanaman yang mereka budidayakan termasuk tanaman pangan juga sayur dan tanaman serai. Menariknya, selain memenuhi kebutuhan pangan, keluarga mereka juga mampu menghasilkan keuntungan dari memanfaatkan pekarangan.
“Setiap bulan bisa dua kali panen tanaman sayuran yang didominasi tanaman kangkung. Alhamdulillah, hasilnya bisa menutupi kebutuhan rumah tangga. Pemanfaatan pekarangan ini bisa membantu masyarakat selain untuk memenuhi kebutuhan pangan sendiri, juga bisa bernilai ekonomis.” Ungkapnya.
Selain itu disebutkan bahwa dalam perawatan tanaman sayuran dilakukan setiap pagi dan sore. Tidak perlu repot mempersiapkan diri untuk turun ke kebun, karena lahannya ada di depan rumah. Lahan seluas 10x10 meter tersebut dibagi menjadi dua, satu bagian ditanami jagung manis, bagian kedua dilakukan budidaya sayur kangkung. Sementara sekelilingnya ditanami serai.
Ketua RW setempat yang ikut menanam sayur di belakang rumah, menyatakan cukup banyak warga memanfaatkan pekarangan. Petak-petak sayur setiap rumah yang relatif berukuran kecil, merupakan salah satu penyangga keberlangsungan pangan keluarga. Kecil secara ukuran namun besar secara manfaat.
“Di RT 10 saja ada empat kepala keluarga yang melakukan penanaman sayur, hasilnya dimanfaatkan kebutuhan dapur dan dijual ke kedai. Adapun proses pemupukan, warga menggunakan pupuk kompos.” Jelasnya.
Dikatakan juga bahwa masa tanam menuju panen yang relatif singkat memberi kesan tersendiri bagi terciptanya kerukunan keluarga.
“Waktu terbaik adalah saat panen, memberi manfaat ketersediaan gizi dan keakraban saat memetik sayur.” Tutupnya.






